Nusantara, ibu kota baru Indonesia yang direncanakan di Kalimantan Timur.
Pada paruh pertama 2024, lanskap investasi Indonesia mencatat kemajuan penting. Kementerian Investasi melaporkan bahwa Indonesia menarik sekitar Rp829 triliun, atau sekitar US$53 miliar, dalam gabungan modal asing dan domestik dari Januari hingga Juni. Angka ini meningkat 22,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan telah melampaui separuh sasaran tahunan pemerintah sebesar Rp1.650 triliun.
Lebih dari separuh dana tersebut berasal dari investor asing, mencerminkan minat global yang kuat terhadap pasar Indonesia. Seperti pada 2023, sektor hilirisasi logam, khususnya industri terkait nikel, tetap menjadi magnet utama. Indonesia ingin memanfaatkan cadangan mineralnya untuk membangun industri pengolahan maju dan memperkuat posisi dalam rantai pasok global, terutama untuk komponen kendaraan listrik. Dengan salah satu cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia menargetkan perluasan produksi baterai kendaraan listrik dan posisi tiga besar dunia pada 2027.
Sumber Utama Investasi Asing, Januari–Juni 2024
Kontributor terkemuka meliputi Singapura (US$8,8 miliar), Tiongkok (US$3,9 miliar), Hong Kong (US$3,8 miliar), dan Amerika Serikat (US$2,4 miliar). Investor besar lainnya berasal dari Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Belanda, Kepulauan Virgin Britania Raya, dan Britania Raya.
Sektor Utama Pendorong Pertumbuhan
- Logam Dasar: Pelaku domestik dan internasional menanamkan sekitar Rp122 triliun atau US$7,8 miliar, membantu Indonesia beralih dari ekspor bahan mentah menuju pengolahan dan manufaktur yang lebih maju.
- Transportasi dan Telekomunikasi: Investasi mencapai sekitar Rp89,2 triliun atau US$5,7 miliar. Pasar telekomunikasi Indonesia yang sangat besar terus memodernisasi jaringan digital, sementara sektor transportasi memperluas infrastruktur melalui proyek seperti Jalan Tol Trans-Sumatra dan jalur kereta baru. Kereta cepat pertama di Asia Tenggara kini menghubungkan Jakarta dan Bandung.
- Pertambangan: Investasi pertambangan berjumlah sekitar Rp87,9 triliun atau US$5,6 miliar. Selain nikel, Indonesia memperkuat kegiatan bernilai tambah pada industri batu bara dan emas, termasuk rencana gasifikasi, produksi DME, dan peningkatan pemurnian emas di dalam negeri.
Menjaga Kepercayaan Investor
Arus modal yang kuat pada pertengahan tahun menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap arah ekonomi Indonesia. Menjaga momentum memerlukan keseimbangan antara pertumbuhan pesat, keberlanjutan, dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab. Penyederhanaan regulasi, insentif yang terarah, serta dorongan terhadap aktivitas industri yang lebih maju akan menentukan keberlanjutan tren positif ini dan pemerataan kemakmuran jangka panjang.
Oleh Bayley Blake, Chief Marketing Officer Mentawai One.
